Rabu, 28 Desember 2016

Si Buyung

Cerita ini berdasarkan fakta dalam hidup si buyung 'bocah malang' dari negeri 'Perkumpumpulan Para Koruptor'

Sebelum saya lanjut pada kisah yang penuh dengan tangisan air mata, izinkan penulis mengawali dengan mengucap lafadz Basmallah.

Hari itu 20 Desember 2015
dini hari tepatnya menjelang matahari terbenam seraya awan biru mulai menutupi bumi karna akan menyambut sang malam yang sebentar lagi akan tiba...
Detak jam dinding terlihat panah jarum pendek tepat di pukul 17.00 Waktu Indonesia bagian Barat.

'Si buyung'
Bocah malang dengan kisaran usia duduk dibangku Sekolah Dasar dirinya tidak bertahan hidup sendiri, namun nenek tua rentah rambut putih serta jalan pun sudah mulai bongkok yang merawat si buyung dari ia lahir sekitar usia -+ 1 bulan yang di pungut dari pinggiran solokan kota dengan cirikhas "Bau kentut" atau rakyat sekitar biasa menyebut "kali pesing".

Mengawali penulis menambahkan kronologis asal muasal 'si buyung' yang berdialog langsung dengan si nenek saat itu.

Penulis bertanya dengan melontarkan beberapa pertanyaan kepada si nenek yang memungut si buyung pada masa kecilnya :

Penulis : kemarin sore waktu saya pulang kerja dari arah barat kota, saya melihat anak kecil mengahampiri mu nek ? Ank kecil itu terlihat kuat bertahan hidup di kota ini yang penuh dengan para penjahat dan penculikan dimana-mana. Dirinya tidak terlihat usang ataupun lesu, bahkan wajahnya tidak terlihat kalau dia seorang rakyat jelata, beda dengan anak kecil lainnya yg kumel dan berantakan. Seakan saya berpikir ("masa iya Dia Akan menjadi Orang Besar di Negri ini sekalipun saat ini hidupnya sengsara tidak tau kemana tujuannya")
Apakah anak kecil itu cucumu nek ?

Saya melihat si nenek hanya mengeluarkan air mata dan merunduk, sedikit demi sedikit terlihat jatuh air matanya dan mencoba mengapus air mata dengan kain sebagai pengganti rok yang ia kenakan.

Karna melihat si nenek menangis saya pun tambah penasaran akan lebih jauh ingin tau siapa bocah kecil itu?
Sayapun bergegas ke motor untuk mengambilkan air minum barangkali dapat membantu si nenek lebih tegar dan dapat menceritakan siapa kah bocah itu ?
Setelah saya memberikan minum, nenek pun tak lama mengajak saya untuk mendekat dan main ke gubuknya.
serontak kaget mata saya melihat adanya poto seorang Tokoh besar negeri ini yang menempel di sela-sela gubuknya. (Kok bisa dari sekian banyak rumah kumuh disini, cuma si nenek aja yang masang tokoh itu) pikir saya dalam hati.

Nenekpun terlihat tegar mulai percaya dengan saya untuk menceritakan asal muasal bocah yang dirawatnya sejak kecil.

Nenek tak lagi ragu kepada saya dan mengatakan :

"Barusan pas kamu baru masuk gubuk nenek pasti kamu tau wahai nak muda!! wajah siapa itu yang nenek tempel di sela-sela gubuk nenek ?"
(Karna saya yakin hampir semua rakyat negeri ini tau siapa yang di maksud si nenek itu, begitupun saya, saya tau betul siapa orang itu dan bukan orang biasa-biasa saja di kota ini) maka sayapun dengan percaya diri dan bangga saya katakan :
"Tentu, saya tau sekali!! Bahkan bukan saya saja mungkin, barangkali misalnya saya berhentikan tukang asongan lalu saya tanya apakah dia mengenal dgn wajah itu ? Sudah pasti mereka jg akan kenal dengan wajah tokoh yang nenek tempel itu.

"Lalu hubungannya apa nek ?" saya kan hanya ingin tau asal muasal bocah itu yang sekarang nenek berinama 'Si Buyung' ? Kenapa nenek sangkut pautkan dengan tokoh besar itu ?

Nenekpun terlihat merunduk lagi, mukanya memerah, dan menghapus air matanya yg mencoba keluar.

Sayapun semakin heran dan lebih penasaran lagi.
Kenapa kok si nenek nangis lagi ? (Tanya ku dalam hati)

Lalu saya coba tanyakan lagi secara perlahan dan lebih santai agar si nenek tidak bermuram burjah menceritakan asal bocah itu.

"Nek, kalau nenek terus sedih dan tidak kuat bercerita sebaiknya nenek istirahat saja dulu, biar saya menunggu sampai nenek terlihat tegar lagi, gapapa ya nek ? (Tanya saya pada nenek sambil merendah, sekalipun sbenernya saya sudah penasaran sekali)

"Sebenarnya ini adalah rahasia "Si Buyung" bagaimanapun nenek harus tetap menjaganya, karna nenek takut setelah nenek bercerita khawatir orang yang tau cerita si buyung seutuhnya, si buyung akan di ambil lalu di manfaatkan oleh orang orang yang ingin memeras orang tuanya. Nenek takut wahai nak muda, nenek takut, nenek sayang sekali dengan si buyung, nenek tidak akan memberikan ia kepada orang lain, apalagi untuk membiarkan hidupnya penuh dengan kesedihan, nenek akan membesarkan si buyung dengan yang nenek bisa! Sekalipun dia selalu bertanya sekali waktu kepada nenek, siapa yang melahirkan dia? Tp nenek tidak pernah mejawab dan mencoba mengalihkan pertanyaanya.
(jawaban si nenek setelah saya tanya kembali)

Saya pun seketika terdiam seakan misteri menyimpan sebuah cerita besar dalam diri 'Si Buyung'

Apaa yang sebenarnya terjadi ?
Ada apakah dengan si buyung ?
Bagaimana mungkin poto seorang tokoh besar di negeri ini bisa terpampang dalam sela-sela gubuknya ?
Apakah ada sangkut pautnya tokoh besar itu dengan si Buyung ? (Pikirku dalam hati dengan otak dan logika yang sudah bertanya-tanya)

Saya menoleh keluar nampaknya bintang sudah kerkelip di angkasa, bulan sabit pun sangat cerah cahaya sinarnya seakan tau dan jadi saksi pertemuan saya pada si nenek, jam tangan yang saya kenakan terlihat pukul 20.28 WIB. Tidak terasa ternyata obrolan saya dengan si nenek sudah menguras waktu cukup lama sampai lupa sholat magrib ku terlewatkan. (OH My God I'm Sorry )

Dengan lelah saya sudah bersusah payah memberikan kepercayaan pada si nenek nampaknya nenek belum mau menceritakan sepenuhnya pada saya. (Pikirku) esok atau lain waktu saya harus berkunjung lagi ke si nenek agar lebih tau sebenarnya ada apa dibalik tokoh itu dan si buyung.

Nenek masih terlihat sedih sepertinya lebih baik saya datang lain waktu biarkan hari ini saya cukupkan sampai disini dulu. Tidak tega saya rasanya.

"Nek, yasudah jika memang nenek masih ingin menjaga rahasia asal mula si buyung, simpanlah baik-baik jangan biarkan orang tau, saya berterima kasih kepada nenek sudah memperkenakan untuk main ke tempat tinggal nenek, nanti lain waktu saya pasti akan kesini lagi, saya bawain nenek makanan dan buah-buahan untuk menghidupi si buyung ya nek"
Nenek yang sehat, yang kuat, nenek tidak usah khawatir, amal baik nenek akan di perhitungkan sm Allah nanti di akhirat, karna nenek telah merawat dan besarkan si buyung, saya doain semoga nenek dapat menghidupi si buyung kelak sampai besar nanti"
Sekarang sudah malam, sudah waktunya saya untuk pulang ya nek,
(tetesan air mataku yang tidak tertahan karna tidak kuat untuk meninggalkan si nenek dengan melihat keadaan tempat tinggalnya yang tidurpun hanya ber alaskan kardus sisa indomie di lapisi terpal, ukuran gubuk pun yang kecil dan kumuh, langit-langit atapnya hanya sisa spanduk" pilkada, gelas minumnya hanya sisa aqua gelas yang dia bersihkan, OH Tuhan semoga engkau selamatkan nenek ini dari orang-orang yang mencoba ingin meratakan tempat tinggalnya, mau dimana nenek tinggal jika itu terjadi ? Gubuknya sudah di anggap bagai istananya, nyaman ia bersama bocah itu yang di anggap sebagai cucunya, selamatkan ya Allah).

Pertemuan saya pun sampai disitu terlebih dahulu, dimotor sambil jalan pulang saya pun tak henti-hentinya memikirkan itu, sangat terharu, sedih, bahagia melihat seorang nenek yang berusia sekitar -+ 80th itu dapat menghidupi bocah yang di pungut sejak kecil sekalipun itu bukan darah dagingnya, betapa mulianya hati si nenek.

Saya berjanji sebagai penulis akan menyambung cerita ini setelah saya menemui nenek itu kembali.

Semua pembaca saya tidak ragukan lagi pasti ingin tau siapa kah tokoh besar negeri ini yang poto wajahnya di tempel di sela-sela gubuk si nenek itu ?
Apakah 'Si Buyung akan besar dengan kerja keras upaya si nenek' ?
Dan Siapakah SEBENARANYA bocah itu yang dalam cerita ini di Sebut namanya sebagai 'SI BUYUNG' ???

28 Des 2016
Penulis Cerita

Indra Pratama

Tidak ada komentar:

Posting Komentar